Showing posts with label Teori [tentang] Arsitektur. Show all posts
Showing posts with label Teori [tentang] Arsitektur. Show all posts
Saturday, March 13, 2010
7 pendekatan untuk perancangan arsitektur
Fungsi Ruang
1. Ruang dibentuk dengan tujuan dan pandangan tertentu terhadap cara penggunaan ruang tersebut.
2. Ruang dapat dibentuk sesuai hubungan hierarki yang berada dalam fungsinya.
3. semakin tepat hubungan fungsi dengan ruang , semakin jelas kelangsungan penggunaannya.
Lokasi Ruang
4. Ruang dibentuk dengan tujuan dan pandangan tertentu terhadap cara penggunaan ruang tersebut.
5. Ruang dapat dibentuk sesuai hubungan hierarki yang berada dalam fungsinya.
6. semakin tepat hubungan fungsi dengan ruang, semakin jelas kelangsungan penggunaannya.
Wujud Ruang
7. Ruang dibentuk dengan tujuan dan pandangan terhadap bentuk dan wujud tertentu.
8. Ruang dapat dibentuk dengan mengutamakan kemandirian wujudnya.
9. Semakin kuat diutamakan kemandirian bentuk, semakin menonjol objek sebagai karya tunggal.
10. Penonjolan tersebut dapat bersifat positif atau negatif.
Batasan Ruang
11. Ruang hanya dapat dilihat melalui batasnya.
12. Tidak hanya batasan ruang yang penting, tetapi juga skala batas bersama ukuran objek di dalam ruang tersebut.
13. "Ruang luar" dari sebuah objek mikro (rumah) bersifat "ruang dalam" pada tingkat makro (kawasan).
Urutan Ruang
14. Urutan ruang hanya dapat dilihat melalui sambungan ruang yang dibentuk.
15. Sambungan ruang sebagai urutan membutuhkan elemen-elemen baik penghubung maupun pembatas.
16. Semakin tepat daerah penghubung dan pembatas ruang, semakin jelas pembentukan urutan ruang.
Aturan Ruang
17. Aturan ruang dicapai melaui susunan objek dengan lingkungannya.
18. Susunan tersebut dapat melibatkan objek dengan lingkungannya yang masing-masing memiliki pola spasial yang sama atau berbeda.
19. Semakin tepat hubungan objek dengan lingkungannya, semakin jelas aturan ruang.
Tata Ruang
20. Tata ruang tercapai oleh susunan ruang dalam objek secara hierarkis.
21. Penyusunan tersebut dapat melibatkan ide dan maksud tertentu melalui pembentukan pola tertentu.
22. Semakin tepat bentuk dan hubungan struktur dengan fungsinya, semakin jelas tata ruang dalam objek.
Pendekatan dalam perancangan arsitektur
Metode untuk menganalisis dan merancang arsitektur secara efektif
Dr.-Ing. Markus Zahnd, B.Sc. M.Arch
Saturday, February 6, 2010
Maestro Bicara
Sadar atau tidak sadar, ketika kamu mengapropriasi karya orang lain ke dalam desainmu,
ketika kamu memodifikasinya,
sebenarnya kamu sudah mengCONVERT desain orang tersebut menjadi INSPIRASImu
Intuisi memang luar biasa,
tapi mendesain dengan metoda akan jauh lebih cepat, benar, dan bahagia.
Mendesain, bukan sekedar suka-suka, meluapkan emosi atau perasaan;
ketika kamu memodifikasinya,
sebenarnya kamu sudah mengCONVERT desain orang tersebut menjadi INSPIRASImu
(Gideon Kristi Wiyono)
Intuisi memang luar biasa,
tapi mendesain dengan metoda akan jauh lebih cepat, benar, dan bahagia.
(Gregorius Wuryanto)
Mendesain, bukan sekedar suka-suka, meluapkan emosi atau perasaan;
tapi menjawab persoalan.
(Eko Prawoto)
Standar-standar, ukuran, dimensi ruang, bukanlah patokan utama dalam mendesain.
Tapi argumen mengapa desain itu dapat diterima, itu yang utama.
(Eko Prawoto)
Tradisi adalah ilmu pengetahuan sepanjang masa yang telah teruji kebenarannya.
(Eko Prawoto)
Jangan menjadi orang yang hanya akan bersedia untuk belajar materi pada saat sudah terlambat.
(Markus Zahnd)
Site menjadi inspirasi pada sang arsitek untuk membentuk arsitektur.
(Markus Zahnd)
Tidak ada proyek besar atau proyek kecil, tapi jadikan itu sebagai KESEMPATAN untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik.
(Eko Prawoto)
Tidak ada kata "GAGAL", yang ada hanya "SUKSES" atau "BELAJAR".
Tung Desem Waringin
Exclusive Indonesia authorize consultant of Antony Robin and Robert T. Kyosaki
Exclusive Indonesia authorize consultant of Antony Robin and Robert T. Kyosaki
Apapun yang terjadi pada hidup ini, tidak ada artinya;
hanya ada artinya sampai kita sendiri yang memberi arti.
hanya ada artinya sampai kita sendiri yang memberi arti.
Tung Desem Waringin
Exclusive Indonesia authorize consultant of Antony Robin and Robert T. Kyosaki
Exclusive Indonesia authorize consultant of Antony Robin and Robert T. Kyosaki
Arsitek yang sukses justru salah satunya disebabkan oleh kejujuran diri sendiri,
apa yang ia yakini, dan terus konsisten
99 untuk arsitek
Raul Renanda
Kalau anda minta sketsa saya, maka anda cuma jadi tukang pelaksana belaka.
(Mahatma Anto)
Jika terus minder, selamanya kamu akan dibelakang.
Tidak akan pernah didepan
Perbuat apa yang kau ingini pada dirimu terlebih dulu.
(Johannes Wiryawan)
Jika terus minder, selamanya kamu akan dibelakang.
Tidak akan pernah didepan
(Imelda Damanik)
Demo adalah buat orang yang teriak tapi gak ada gunanya, beresin kuliah kamu, jadilah pegawai negeri, anggota DPR, orang partai dan tokoh masyarakat yang baik dimasa depan.
Ttu "demo" kamu yang sebenarnya. Ikut andil, benerin dan jangan jadi juri - hakim, kamu musti terlibat didalamnya.
(Raul Renanda)
Belajar arsitektur adalah belajar mengenai sistem.
Tidak hanya indah, tapi benar.
Tidak hanya indah, tapi benar.
(Gregorius Wuryanto)
Tersimpan kekuatan dahsyat dalam keyakinan.
Jika orang yakin bahwa ia dilahirkan untuk melaksanakan sesuatu yang tampaknya mustahil,
maka hampir dapat dipastikan bahwa aa sanggup melaksanakan hal itu sebelum ia meninggal dunia.
(Henry Bulwer)
Menang melawan manusia itu biasa.
Tapi kemenangan sejati adalah jika mampu mengendalikan hawa nafsu.
(Prabu Kunto)
Desain yang matang adalah desain dengan connection
(Popodanes)
Tuesday, May 19, 2009
Karakter Ruang yang Terbentuk oleh Masyarakat
Karakter Ruang yang Terbentuk oleh Masyarakat (Code)
Yohanes Wiryawan
Fakultas Teknik Arsitektur, Prodi Arsitektur
Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta
Abstrak
Code merupakan sungai yang cukup penting bagi masyarakat Jogja. Code dihuni oleh masyarakat dengan karakteristik tertentu.
Code yang teramati dalam essay ini lebih dikhususkan di kawasan Code Utara, dimana merupakan pusat kegiatan yang dilakukan Romo Mangun.
Bagaimana comunity development dapat berperan dalam mengubah masyarakat Code menjadi lebih baik?
Essay ini dibuat untuk mengangkat ruang-ruang kawasan Code sebagai aspirasi masyarakat.
Adapun pendekatan yang dilakukan adalah studi literatur tentang Code dan pelaku / aktor yang mengubah Code.
Lebih Dekat Tentang Code
Ada tiga sungai yang melintasi kota Jogja, yakni sungai Winongo, Code, dan Gajahwong. Code menjadi begitu istimewa bagi masyarakat Jogja karena sungai dengan mata air dari sekitaran Merapi ini terletak di tengah kota. Jadi Code memiliki aksesibilitas penuh dari semua sudut kota Jogja. Ini tentunya memudahkan untuk menjangkau Code.
Pada umumnya sungai adalah cekungan linier yang dialiri air. Secara default, air yang mengalir berasal dari satu atau beberapa mata air di pegunungan dan bermuara di danau atau waduk atau laut. Dengan demikian sering sungai mambawa endapan lumpur dan lapisan tanah top soil yang subur. Material yang ikut hanyut dari hulu sungai biasanya mengendap di kanan kiri sungai. Endapan baru dapat terjadi di daerah yang mulai landai. Dimana alran air sudah tidak lagi deras.
Kondisi inilah yang membuat sungai menjadi tempat paling favorit bagi manusia. Benar-banar sangat ideal dan menguntungkan. Tidak hanya untuk masyarakat modern (pasca sejarah) yang notabenenya sudah memiliki intelektual yang mumpuni untuk mengolah alam (sungai). Sejarah pun mencatat bahwa sungai adalah spot lokasi dengan perkembangan peradaban manusia paling pesat. Jadi benarlah jika Code menjadi sangat istimewa bagi masyarakat kota Jogja. Bukan hanya sekadar sumber air untuk hidup, tapi juga penuh endapan yang subur.
Dewasa ini setelah sepeninggalan Romo Mangun, pemerintah Jogja baru mulai mengupayakan Code menjadi setara dengan kawasan lain. Walaupun tetap tidak dapat sama dengan ruang-ruang Kraton atau Malioboro, namun pemerintah telah berupaya mensetarakan Code dengan mengintegrasikan Code dalam tatanan kota.
Yang Awal dari Code
Karena air adalah elemen penting dan kemudahan akses dari seluruh penjuru kota, menjadikan Code didatangi oleh orang-orang kaum marginal. Mayoritas manusia yang datang ini dikemudian hari menjadi sebuah komunitas karena kesamaan ekonomi, status, dan sebagainya. Berangkat dari komunitas awal Code, inilah yang membuat image kumuh dan miskin melekat pada kawasan Code.
Pemukiman yang ada di Code saat ini, dulu bermula dari pemukiman liar. Code utara adalah basecamp Romo Mangun. Datangnya Romo Mangun ke Code karena faktor kemanusiaan dari Romo Mangun setelah terjadi bencana banjir di Code tahun 1984. Profesinya yang sebagai rohaniawan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis, serta kedekatannya dengan kaum miskin semakin mendorong Romo Mangun untuk melakukan perubahan di Code.
Dulu masyarakat bergaul dengan alam dengan cara mengeksplorasinya. Dengan bertambahnya waktu dan jumlah manusia yang mengekspliotasi alam secara besar-besaran, alam ini tidak lagi mampu untuk mempertahankan dirinya, apalagi menunjang kehidupan manusia. Mulailah terjadi serentetan bencana alam. Bencana-bencana yang terjadi mirip dengan efek domino. Dimana dari tiap masalah saling berkaitan satu dengan yang lain. Jadi, jika sudah terjadi satu, maka masalah berikutnya hanya masalah waktu. Konsidi yang semakin ruwet ini, bersimpul satu. Global Warming. Ini adalah akhir dari serentetan bencana-bencana kecil yang terjadi sekarang.
Bumi ini cukup untuk memuaskan tiap individu di bumi ini, tapi kurang untuk satu orang serakah.
(Ir. Setyo Dharmodjo, MT, kuliah Teori Arsitektur 2)
Arti Kehadiran Sang Romo
Romo Mangun, atau lengkapnya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, 6 Mei 1929. Lulus studi arsitektur dari ITB tahun 1959.
Selain Arsitek, Romo Mangun juga adalah seorang rohaniwaN, budayawan, dan aktifis. Kedekatannya dengan masyarakat kaum marginal yang membuat Romo Mangun cepat tanggap terhadap bencana yang terjadi di Code.
Romo Mangun mengubah Code Utara menjadi luar biasa. Rumah-rumah yang semula hanya dari karton dan plastik bekas, diubah oleh Romo Mangun. Secara fisik memang, transformasi yang dilakukan Romo Mangun tidak semua adalah barang baru. Kejeliannya melihat barang bekas ditambah kekayaan tektonika yang dimiliki beliau, menghasilkan Code seperti yang dapat kita nikmati bersama.
Kedekatan ini lah yang membedakan karya Romo Mangun dari yang lain. Menekan biaya, memanfaatkan barang bekas, kemampuan menghargai orang lain yang merupakan warna dari tiap bagunan hasil coretan tangannya.
Code, Lain Dulu Lain Sekarang
Tahun 1980an, pemerintah berencana merelokasi pemukiman yang ada di Code setelah bencana banjir. Alasan pemerintah adalah tentang kelayakan hidup. Pemerintah menganggap bahwa hidup di kolong jembatan tidak bersih dan sehat.
Namun rencana pemerintah ditolak warga setempat. Niat warga juga sejalan dengan pemikiran Romo Mangun. Bersama warga Code dan beberapa aktifis Romo Mangun bersehati menolak rencana relokai yang dilakukan pemerintah. Sempat pula Romo Mangun melakukan aksi mogok makan.
"Dulu bangunan dari kardus dan plastik. Kami membangun secara bergotong-royong. Sekarang sudah jauh berbeda. Rumah sekarang terasa lebih sehat."
(Darsono, mantan Ketua RT Code Utara)
Romo Mangun beranggapan bahwa di Code pun, masyarakat mampu hidup layak dan sehat. Berangkat dari hal ini, Romo Mangun mulai menata ulang Code Utara. Mulailah dibangun banyak fasilitas pulik.
Banyak sekali perubahan yang telah dilakukan oleh Romo Mangun. Romo Mangun menata ulang pemukiman yang telah ada. Code menjadi lebih sehat. Ada WC umum, open space untuk bermain anak-anak, balai desa, rumah susun yang sehat.
Salah satu bangunan yang tampak jelas masih ada adalah Balai Serbaguana. Di dalam rumah panggung tanpa pintu ini beratap runcing menunjuk langit tersimpan rapi buku-buku bacaan dalam rak kaca di sisi kanan dan kiri ruangan. Selain sebagai perpustakaan dan tempat belajar anak-anak kampung di sore hari, bangunan ini juga digunakan sebagai tempat pertemuan warga.
Sumber Pustaka Code
Membaca Teks Sosial Lewat Teks Visual, KomunitasMangunSemi, Birul Sinari-Adi - biruls@yahoo.com
Oase Budaya Egaliter di Sungai Code, http://kompas.com, Jumat, 8 Mei 2009, , YOHANES AD FERNANDEZ Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Pemikiran Ulang dan Pembangunan Masa Depan eco-cities untuk Semua, FuturArc, PEOPLE, 2nd quarter 2009 | volume 13
Pengelolaan sampah di daerah bantaran sungai Kali Code, Komunitas Peduli Sampah, 14 Mei 2009
Permukiman Asri Tepi Kali Code, Voice of Human Rights, http://www.vhrmedia.com/vhr-news/bingkai,Permukiman-Asri-Tepi-Kali-Code-53.html
Selayang Pandang Y.B. Mangunwijaya,
Sungai Code, http://id.wikipedia.org/wiki
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, http://id.wikipedia.org/wiki/Yusuf_Bilyarta_Mangunwijaya
Monday, May 11, 2009
SounD
Landing Soon #10
Octora
(Project of Intimacy)
Cilia Erens
(Soundspace Jogja dan Nyepi Walk)
Rumah Seni Cemeti
23-30 April 2009
Hari ini (01/05) saya dengan teman-teman Teori Arsitektur 02 melakukan kunjungan ke Rumah Seni Cemeti. Sedang berlangsung pameran suara yang bernama “Landing Soon”.
“Landing Soon” adalah program kerjasama antara Indonesia-Belanda di bidang seni. “Landing Soon” kali ini adalah kali kesepuluh yang telah dilakukan. Mengambil tempat di Rumah Seni Cemeti, Cilia, sebagai author, mengambil tema “Soundspace Jogja” dan “Nyepi Walk”.
Cilia Erens adalah seniman Belanda yang mengisi pemeran ini. Beliau, merupakan praktisi seni sekaligus perancang perkotaan. Dia mengaku sangat menyukai dunia transisi antara art dengan architec. Kecintaannya pada suara dan pengalaman meruangnya di Jogja selama lebih kurang 3 bulan, telah menghasilkan suatu manifestasi seni suara yang setelah diolah menjadi sebuah nilai seni yang luar biasa.
Sebelumnya, Cilia juga telah berdiskusi dengan salah seorang arsitek ternama di Jogja, sekaligus arsitek Rumah Seni Cemeti, Eko Prawoto. Disini Eko menjelaskan rumah tidak sekedar ruang-ruang yang diselubungi dinding dan di atap’i. Atap rumah adalah sebuah mahkota rumah. Atap juga sebagai elemen pemisah antara ruang publik dengan ruang yang lebih privat didalamnya.
Berbekal sedikit pengalaman Celia “meruangi” Eko Prawoto, untuk memvisualisasikan kehendaknya, Cilia berdiskusi dengan Nindityo (Cemeti Author) tentang bagaimana sebaiknya pameran ini dilakukan.
Pertama Cilia menghendaki adanya atap-atap rumah konvensional / etnik Indonesia, khususnya Jogja. Lalu oleh Nindityo dipilihlah model-model tritisan sebagai “rumah” tiap suara yang telah di produksinya. Penggunaan tritisan adalah untuk menyederhanakan keinginan Cilia terhadap atap. Nindityo memberikan model tritisan karena tritisan akan terasa lebih dekat dengan manusia karena letak dan fungsinya sebagai penutup bangunan.
Pameran yang sedianya dilakukan di kebun pisang di sisi luar Rumah Seni Cemeti, oleh karena alasan apa, dipindah ke dalam ruang pamer di dalam.
Tiap-tiap tritisan dibuat semirip mungkin dengan model yang lazim di jumpai di Jogja. Penambahan lampu day light dan tritisan yang di buat lebih rendah dari pandangan mata membuat suasanya ruang di bawahnya menjadi begitu privat. Sangat cocok untuk menikmati rekaman suasana Jogja yang berhasil di tangkap Cilia.
Dengan mencoba langsung beberapa rekaman dan sedikit konsentrasi (dapat dibantu dengan memejamkan mata) atau bahkan tanpa konsentrasi pun, suara yang dihasilkan begitu riil. Sangat nyata. Hiruk-pikuk jalan raya, lengkap dengan musisi jalanan memuat saya merasa mengalami transformasi ke ruang-ruang lain.
Ada pula suara adzan saat subuh, kicau burung dan beberapa binatang hutan, desir ombak pantai, titik-titik hujan yang pecah di atap. Semua memberi atau menurut hemat saya, mampu menarik saya keluar dari sana ke tempat yang sama persis saat suara itu direkam. Ditambah penggunaan ipod sebagai media playernya, masing masing file audio yang di sajikan mampu menghipnotis dan menarik pendengar ke dunia yang lain.
Sebagai opini atau komentar saya terhadap instalasi ini adalah laur biasa. Cilia mampu menangkap secuil kondisi masyarakat di Jogja. Rekaman yang tersaji secara apik dan riil. Saya sebagai salah satu penikmat seni sangat menyukainya. Cilia mampu membawa saya jauh lebih dalam bertransformasi / berpindah ruang dari sepetak ruang pamer menjadi ditengah hiruk pikuk kota, suasana hujan, suara hutan, dan lain-lain.
Satu kritik, karena ini adalah kunjungan pertama saya ke Rumah Seni Cemeti, ada bagian ruang pamer yang sedikit sekali sirkulasi udaranya. Ditambah tiadanya pendingin udara, membuat pengunjung cepat gerah dan kurang betah berlama-lama.
Diantara sekian elemen pembentuk ruang (warna, bunyi, dan bau) bunyi adalah salah satunya. Saat mempelajari ruang di Teori Arsitektur 01, saya kurang paham, atau lebih tepatnya tidak mampu merender situasi ruang yang terbentuk karena bunyi-bunyian di otak saya. Tapi Cilia mampu melakukan 2kali lebih hebat dari saya. Ia tidak hanya mampu merender karakter suara dari berbagai ruang, tapi selangkah lebih lagi adalah manifestasi hasil render otaknya.
Cemeti Art House
41, D.I. Panjaitan Street, Jogjakarta 55143, Indonesia
Telp./Fax.: +62 274 371015
Mobile: +62 8122733564
E-mail: cemetiah@indosat.net.id
Open: 09.00 a.m. - 05.00 p.m., except Sunday, MondayThursday, March 19, 2009
Sustainability
Sustainability, secara harafiah adalah kemampuan untuk mempertahankan proses tertentu.
Dalam mendefinisikan suatu ruang / bangunan itu dapat sustain atau tidak, kita dapat menggunakan acuan. Salah satu acuan yang dapat digunakan adalah Spatial Pattern (Pola Keruangan)
Akankan Duta Wacana sustain sampai tahun-tahun berikutnya?
Jika bangunan lain disekitaran Duta Wacana tidak sustain, akankah mempengaruhi ke-sustain-an Duta Wacana?
Pertama marilah kita lihat Duta Wacana dari sosok bangunannya.
Elemen Fisik
Bangunan Duta Wacana memiliki dinding bata dengan kolom-kolom beton. Untuk dinding penahan tanah digunakan batu kali agar kokoh.
Lantai difinishing dengan tagel dan keramik
Atap difinishing dengan genteng.
Persepsi
Duta Wacana adalah sebuah universitas swasta di Jogja, yang terbentuk dari pemekaran STT Duta Wacana, yang ingin ikut memajukan pendidikan ki kancah yang lebih luas. Karena basik Duta Wacana (baik saat STT, maupun setelah menjadi Universitas) adalah lembaga pendidikan tinggi, maka gedung Duta Wacana digunakan sepenuhnya untuk proses belajar-mengajar oleh civitas akademika, rektor, dosen, dan staf-staf lainnya.
Aktifitas
Sebagian digunakan untuk kantor-kantor administrasi, parkir, auditorium, dan ruang kelas.
Time
Secara reguler Duta Wacana memberikan kesempatan bagi civitasnya untuk mengakses segala fasilitas yang telah diberikan selama 5 hari kerja, dari jam 06.00 – 20.00. Dan tambahan waktu di hari Sabtu & Minggu.
Jika hanya dilihat dari fisik bangunannya saja, Duta Wacana masih dapat sustain hingga 3 generasi berikutnya. Why??
Mungkin secara kepemilikan / manusia yang mengisi Duta Wacana baik dari rektorat, dosen, sampai mahasiswa boleh berganti. Karena bertambah dewasanya Duta Wacana sejalan dengan bertambahnya umur para penghuni saat ini. Generasi baru mulai mengisi / menggantikan jabatan rektorat dan dosen, sampai mahasiswa baru di tiap semesternya. Selama Duta Wacana tetap bergerak di bidang pendidikan dan tetap mendapat supply mahasiswa baru, Duta Wacana akan mampu sustain.
Dari sisi bangunan, memang bangunan baik bata, batu, maupun beton kuatitas no1 pun tetap lekang oleh bertambahnya usia bengunan. Apalagi model / desain bangunan. Itu akan cepat sekali berubah. Jika hanya ditinjau sampai di sini Duta Wacana sudah pasti tidak mampu sustain. Tapi, perkembangan arsitektur modern, teknologi informasi, daya cipta, imajinasi, ide, itu tidak akan habis. Ditambah lagi munculnya generasi muda yang hampir selalu membawa ide segar bagi kemajuan dunia. Dampaknya pada Duta Wacana adalah adanya regenerasi bangunan. Seperti yang sudah terjadi saat ini, satu gedung di Duta Wacana di ujung selatan telah dibongkar dan di bangun baru, lengkap dengan pondasi baru & desain yang lebih terupdate.
Dua alasan yang tetap membuat Duta Wacana sustain, saya buat dengan acuan Filtering Concept. Dimana fisik bangunan tetap atau sudah mengalami modifikasi dan terjadi pergantian user.
Tidak adil rasanya jika melihat Duta Wacana hanya dari fisik bangunan yang tertanam di Jl Dr Wahidin. Banyak aspek lain di luar Dua Wacana yang dapat mempengaruhi keberlangsungan Duta Wacana.
Contohnya rumah-rumah di sekitaran Klitren. Mereka menyediakan jasa tempat tinggal (kost) bagi mahasiswa Duta Wacana. Sejak dulu, banyak mahasiswa yang tinggal di sekitaran Klitren. Tentunya ini memdudahkan bagi mahasiswa untuk tinggal. Karena dekat dengan kampus. Lainnya adalah banyaknya warung-warung makan, tempat laundry, warnet, dll. Ini semua adalah fasilitas pendukung yang dibutuhkan mahasiswa yang tidak disediakan oleh Duta Wacana.
Saat lingkungan sekitar Duta Wacana tetap sustain, maka Duta Wacana tentunya juga tetap sustain. Kerena foot print Duta Wacana adalah mahasiswa. Jika mahasiswa Duta Wacana tetap sustain karena bisa tinggal di Klitren, makan di warung-warung dekat Duta Wacana, dan dapat mempostingkan tugasnya di warnet-warnet terdekat, sehingga mahasiswa Duta Wanana tidak ada yang ber IP rendah, sehingga tidak terkena DO dari Duta Wacana karena tidak kunjung di wisuda. Duta Wacana pun akan tetap sustain.
Jika hanya dilihat dari lingkungan terdekat Duta Wacana, Duta Wacana masih dapat teridentifikasi ke-sustain-annya. Mari kita lihat Duta Wacana dalam lingkup yang lebih luas lagi.
Dalam ranah ini, kita tidak bisa lagi mengukur ke-sustain-an Duta Wacana dari fisik bangunannya saja.
Contoh:
Seperti yang telah disinggung di kelas (dan kebetulan saya menjadi salah satu korbannya) adalah saat ada orang yang mungkin tidak mengenal satu persatu perguruan tinggi di Jogja berdiskusi tentang segala hal pada Anda, dan sampai akhirnya sampai pada topik “kuliah dimana??”. Secara otomatis, saya akan menjawab Duta Wacana. Sengaja tidak saya sebut lengkap UKDW, karena merujuk pada salah satu agama tertentu.
Tapi berhubung yang bersangkutan yang tidak begitu paham tapi sok paham, akan menimpali dengan jawaban “Duta Wacana yang di Salatiga”.
?????? kira-kira ekspresi saya saat mendengar Duta Wacana ada di Salatiga. Otak saya mendadak freeze selama beberapa detik, karena tiba-tiba lawan bicara saya keluar begitu jauh dari topik.
Well, bagaimana Duta Wacana dapat “hang-out” ke Salatiga, bersilaturahmi dengan sepupunya Satya Wacana??
Tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Duta Wacana menjadi sebegitu kecilnya, walaupun masih dilihat dari kota Jogja.
Bagaiman Duta Wacana stetap sustain??
Ini sepertinya yang sedang dilakukan Duta Wacana. Mengubah food print nya, dari yang berupa mahasiswa, menjadi riset. Saat Duta wanaca melakukan banyak riset, nama Duta Wacana secara otomatis akan menjadi owner dari setiap hasil publikasi riset tadi. Dari sanalah masyarakat luas, yang mungkin tidak mengetahui fisik Duta Wacana tapi dapat mengenal atau paling tidak pernah mendengar nama Duta Wacana.
Secara praktiknya, ini 100% dapat dilakukan oleh warga Duta Wacana, mulai dosen sampai mahasiswa.
Dengan inilah cara termudah untuk mengenalkan Duta Wacana ke lingkup yang semakin luas, atau malah sampai tingkat internasional.semakin banyak yang dilakukan Duta Wacana di luar, semakin besar pula peluang Duta Wacana tetap sustain di dunia pendidikan.
Sunday, March 15, 2009
Cemeti Art House
Cemeti Art House
Connected Traditional and Modern
Rumah Seni Cemeti mulai aktif dalam menyelenggarakan pameran dan mengkomunikasikan karya seniman kontemporer baik dari Indonesia, maupun mancanegara sejak tahun 1988. Dalam acaranya, ditampilkan pula site-spesific, art happening, presentasi, dan diskusi oleh para seniman. Cemeti juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga seni dan budaya lainnya. Sejak tahun 2006, Cemeti membuka program residensi Landing Soon.
selengkapnya tentang Cemeti Art House....
Salah satu keunikan Eko Prawoto adalah menghasilkan desain-desain yang sederhana dan simpel. Desainnya tidak hanya ia implementasikan saat ia mengajar dikelas, tapi pada banyak desain bangunannya. Ia mampu mengolah sesuapu yang sangat sederhana / simpel menjadi suatu karya yang nyaman di mata. Seperti misalnya, hanya dari sebiah bentuk setengah lingkaran, di tangannya itu sudah lebih dari cukup untuk membuat banyak tema karya untuk melengkapi desainnya. “Itu hanya perlu diulang, diubah besarannya, dirotasi, ditumpuk, dibedakan intensitas cahayanya. Main-mainlah dengan bentuk ini. Jangan dibuat tegang, santai saja.” Kira-kira seperti itulah kata-kata yang terlontar dari mulutnya, saat mendapati soerang / sekelompok mahasiswa yang mulai frustasi dengan tugas yang ia berikan. Ini terbukti dari banyak karya mozaik yang ia selesaikan dengan apik.
Konsep yang ditekankan Eko Prawoto dalan merancang Cemiti adalah bagaimana mengubungkan sesuatu yang klasic dengan modern. Dibuatnya atap limasan dalam bangunan ini yang melambangkan gerakan seni yang aksesibel dengan para seniman.
selengkapnya tentang Cemeti
Rumah Seni Cemeti tergolong memiliki rancangan yang cukup unik, yaitu memadukan unsur modern kontemporer dan tradisional. Ini bisa dilihat dari bagian depan Rumah Seni Cemeti yang berbentuk limasan. Adapun bagian dalam adalah ruang pamer yang relatif moderen.
--dikutuip dari harian Kompas, Rabu, 15 Februari 2006—
Penggunaan kaca / bukaan-bukaan dalam bangunan ini, memungkinkan cahaya dapat masuk dengan bebas. Imbasnya adalah banyaknya cahaya yang dapat ditangkap bangunan ini. Jika mau dikaitkan dengan isu Global Warming, ini dapat sebagai peghematan energi. Karena sejak dimulainya operasional Cemeti sampai sore, tidak diperlukannya tambahan cahaya. Hanya lampu-lampu kecil untuk memberi efek pada karya yang sedang dipamerkan.
Keunikan lain yang di miliki Eko Prawoto adalah kekayaan desain seperti mozaik, besi, dan mengekspos bahan bahan alam, seperti kayu dan bambu. Salah satu yang ikut diterapkan Eko Prawoto saat mendesain Cemeti.
baca selengkapnya
Seperti yang diekspos oleh oleh Eko Prawoto pada umpak. Kombinasi antara kolom kayu, yang kemudian ditahan besi baja, dan diteruskan kepada pondasi beton. Selain tetap mempertahankan kekuatannya (karena meneruskan beban struktur ketanah) juga menambah unsur estetika.
Memotifkan dinding dengan beberapa mozaik juga ikut mewarnai interior rumah seni ini.
Cemeti Art House
41, D.I. Panjaitan Street, Jogjakarta 55143, Indonesia
Telp./Fax.: +62 274 371015
Mobile: +62 8122733564
E-mail: cemetiah@indosat.net.id
Open: 09.00 a.m. - 05.00 p.m., except Sunday, Monday
Thursday, March 12, 2009
What Happen with Jogja in 2020
Part2
Kuliah oleh Ir. Setyo Dharmodjo, MT.
Kesimpulan yang dilontarkan pertama kali oleh Pak Setyo adalah bahwa kami mahasiswa masih berpikir meloncat kedepan, dimana pemanasan global sudah sampai tahap sempurna lengkap dengan kehancuran planet Bumi. Tapi mahasiswa melompati beberapa step / tahap sebelum pemanasan global terjadi. Dan parahnya, step yang terlompati inilah yang menjadi kunci bagi arsitek dalam membangun dikemudian hari.
Jika saya mencoba mengulang apa yang disampaikan Pak Setyo dari hasil presentasi Teori Arsitektur 2 beberapa minggu lalu, adalah:
1. Eco & Green Architecture
Arsitek mulai merancang gedung yang didalamnya juga ikut ditanami pohon, recycle water, dan yang lebih unik lagi, memindahkan rumah ke atas pohon.
2. Konsep melarikan diri
Membangun kota bawah air dan memindahkan kota ke luar angkasa.
Jika ditilik lebih dalam lagi, apa yang terjadi saat pemanasan global menjadi sempurna, jauh lebih mengerikan daripada banjir / tenggelamnya suatu kota secara permanen. Beberapa dampak lain yang dicoba dibahas waktu itu:
- Munculnya varian baru penyakit à mutan
- Badai yang biasanya terjadi di utara khatulistiwa, mulai turun ke selatan à Indonesia akan ikut mengalami badai.
- Intensitas dan kekuatan badai yang meningkat.
- Lubang ozon (O3) semakin lebar.
- Kanker kulit
- Punahnya keragaman hayati.
- Hujan asam.
- Berkurangnya persediaan air tawar / bersih à hilangnya gletser, tercemarnya air oleh asam, tingginya air laut, air tidak tersaring sempurna ke dalam tanah.
- Iklim & cuaca yang tidak menentu.
- dll
Aspek non fisik sebagai acuan
Kita sebagai arsitek diharapkan sudah mulai berpikir ke ranah kota. Dimana didalamnya terdapat aspek fisik dan non fisik dalam membangun. Disini aspek fisik diuraikan secara sederhana adalah: bangunan, jalan, kota, landmark, space, dll. Sedang aspek non fisik adalah: politik, sosial, hukum, keamanan, dll.
Kita sebagai arsitek akan terasa sangat mudah jika hanya mendapat project membanggun. Itu hanya urusan waktu saat kita mendesain. Tapi jika aspek fisik ini mulai dioverlay kan di dalam konsep bangunan yang akan dibangun, mendesain sebuah tong sampah yang dapat membuat orang pasti membuang sampah ke tong itu, bukannya di sembarang tempat atau malah di samping tong itu dengan sengaja, itu dapat memakan waktu bertahun-tahun. Ini karena telah menyangkut masalah sosial, yaitu habit masyarakat yang hobi buang sampah di sana-sini.
Contoh lain yang diberikan, berapa lama waktu yangdibutuhkan seorang mahasiswa arsitek untuk mendesain ruang kelas H.2.3. mungkin sekitar 1jam. Tapi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendesain ruang kelas H.2.3 agar semua mahasiswa yang masuk ke ruang kelas itu konsentrasi 100% terhadap materi kuliahnya, atau minimal walaupun mahasiswa tidak menghiraukan materi, keluar dari ruang H.2.3 tetap mendapat knowledge.
Jogja in Haven
Jadi, inti dari apa yang terjadi pada Jogja 2020, sekaligus koreksi terhadap tugas yang saya kerjakan adalah bukan kita sekedar menerapkan konsep Eco / Green Architecture, atau malah memindahkan elemen-elemen, atau bahkan Jogjanya ke bawah laut atau ke Mars, tapi lebih kepada bagaimana kita arsitek dapat menyajikan desain-desain dengan memasukkan aspek non fisik didalamnya.
Arsitek generasi berikutnya, harus mampu menjadi lilin / mercusuar didalam kegelapan dunia ini.
CONTINUITYandCHANGE
Teknik Arsitektur UK Duta Wacana
©2009 Teori Arsitektur
Imelda-Setyo
What Happen with Jogja in 2020
Part1
Global Warming
Global warming atau pemanasan global, setelah dialih bahasakan ke bahasa Indonesia. Isu yang mencuat sejak satu dekade lalu, rupanya sangat menghebohkan dunia. Sampai pada puncaknya dilakukan protokol kyoto di Bali, Indonesia.
Menilik lebih dalam tentang isu pemanasan global ini, dipicu oleh beberapa negara maju, seperti Amerika, Rusia, yang kemudian disusul China yang tengah menggarap kemajuan perekonomian di negaranya.
Itu adalah ilustrasi dari sebagian kecil polemik tentang pemanasan global.
Beberapa dampak populer yang digembar-gemborkan oleh ilmuan adalah naiknya suhu bumi karena akumulasi gas CO2 yang semakin meningkat. Penggunaan bahan bakar fosil dalam industri menyumbang gas CO2 paling banyak tiap tahunnya.
Seperti yang telah disampaikan (atau sekarang, isu pemanasan global dan dampaknya, telah dimasukkan dalam kurikulum pendidikan) efek domino / kelanjutan yang terjadi dari banyaknya gas CO2 adalah naiknya suhu bumi. Ini terjadi karena gas CO2 bersifat ringan, jadi ia menutupi atmosfer bumi dan bertindak sebagai mantel bumi.
Radiasi panas yang diberikan matahari secara normal seharusnya kembali dibuang keluar angkasa saat malam, tapi setelah munculnya mantel CO2, panas yang seharusnya dilepas bumi ke luar angkasa terperangkap di bumi.
Berikutnya adalah mencairnya es di kutub-kutub bumi. Ini menyebabkan 2 masalah besar.
Yang pertama, semakin berkurangnya populasi beruang kutub. Semakin panas suhu bumi, semakin sedikit bongkahan es bagi si beruang untuk berpijak. Beruang kutub harus berenang bermil-mil jauhnya hanya untuk mendapati bongkahan es.
Masalah berikutnya, saat es mencair, ia akan menambah volume air laut. Tinggi air akan terus meninggi, dan menenggelamkan kota-kota, atau apapun yang ada dibawah.
Jogja 2020
Ini merupakan inti masalah yang diberikan pada kami, mahasiswa Teori Arsitektur 2. Apakah yang terjadi di Jogja (Jogja dalam pengertian merupakan bagian dari Indonesia, dan Indonesia merupakan bagian dari bumi, yang berarti pula akan ikut merasakan dampak dari pemanasan global ini.
Jogja, merupakan kota kecil yang unik. Luasnya yang tidak seberapa besar ini, di apit oleh Gunung merapi (di sisi Utara) dan pantai selatan yang menerus ke Samudra India (sebelah selatan). Lalu seorang dengan kuasa ditangannya menarik semuah sumbu yang lurus dari utara keselatan, dan meletakkan kotanya di persimpangan antara sumbu dan dua buah sungai.
Seperti kebanyakan orang awam, saat ditanyai tentang pemanasan global, hal pertama yang terlintas di benak saya adalah semakin panasnya bumi yang kemudian disusul oleh naiknya permukaan air laut.
Seperti itulah bayangan yang ada di kepala saya sebelum mengerjakan tugas Teori Arsitektur 2 ini. Dalam tugas ini, mahasiswa di beri kelonggaran / kebebasan untuk menuangkan idenya, baik dalam bentuk karikatur, movie clip, poster, puisi, teks, dan sebagainya.
Berhubung saat itu saya belum membawa notebook, hal yang dapat saya lakukan adalah mengerjakan tugas yang bersifat manual. Ini menggiring saya untuk membuat cerita bergambar dengan sedikit menyindir.
Saya akan mencoba memaparkan latar belakang dan alur cerita pada project yang saya kerjakan.
Jauh sebelum saya menginjakkan kaki di bangku kuliah, saya kerap kali menjumpai berita yang menggambarkan kekuatan pemerintah yang sok kuat dengan melakukan penggusuran di sana-sini. Banyak pula alasan yang dilontarkan mereka. Ada yang mengatas namakan ketertiban umum sampai dampaknya bagi lingkungan.
Disini saya akan menyoroti pada satu alasan pemerintah, yaitu dampak bagi lingkungan.
Banjir yang kerap kali melanda kota Jakarta tiap tahunnya saat musim hujan, hampir selalu dari luapan sungai Ciliwung. Mungkin ini tidak hanya terjadi di Ciliwung dan sekitarnya, tapi melanda seluruh kota-kota padat penduduk di Jawa khususnya.
Karena desakan ekonomi yang sedemikian sulitnya, memaksa banyak kepala keluarga tidak mampu dan tidak berkemampuan untuk bekerja layak datang memadati kota-kota besar seperti Jakarta.
Dewasa ini Jakarta telah berkembang menjadi Megapolitan. Dimana banyak sekali atau hampir 100% roda perekonomian Indonesia berpusat di sana. Ini seperti pedang bermata dua. Di satu sisi memekarkan Jakarta dengan sangat pesat dan sumber capital yang luar biasa, di sisi lain momok yang amat menakutkan sementara terjadi di Jakarta. Dimana luas lahan sangat-sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk + perantau yang tinggal di Jakara. Jumlah penduduk semakin meningkat, sedang luas lahan hanya segitu-segitu saja (atau mungkin semakin menciut tiap tahunnya akibat pemanasan global). Keadaan ini diperparah oleh kemampuan ekonomi dari para perantau tadi yang di bawah standar hidup Jakarta. Lengkaplah sudah momok ini.
Mereka mulai membagi diri masing-masing. Ada yang tinggal di kolong-kolong jembatan, tepian rel, tepian & bantaran sungai, TPA, dan tempat-tempat kumuh lain.
Disini pemerintah menuding pembawa banjir di Jakarta selain faktor alam (hujan) adalah banyaknya manusia yang bermukim di tepian sungai.
Begitu masuk musim hujan, pemerintah langsung menertibkan warga yang tinggal di tepian sungai dengan menggusur paksa. Senjata andalan pemerintah adalah “Tanah ini harus bersih dari pemukiman”. Seolah-olah, pemerintah hanya punya satu cara untuk mengatasi banjir. Yaitu menggusur mereka yang tinggal di sekitaran sungai.
Disisi lain, pemerintah malah memuluskan tender bagi pengembang untuk “menanami” Jakarta dengan apartemen-apartemen mewah, hotel, mall, perumahan elit; yang sudah pasti tidak terjangkau oleh kaum urban seperti mereka.
Disini pun akan timbul setidaknya 2 masalah besar lagi. Pertama mereka yang tersingkir dari tempat mereka, akan kembali ke habitat mereka di tepian sungai. Yang kedua, dengan semakin banyaknya apartemen, mall, perumahan elit, akan memakan tempat. Karena tiap bangunan yang didirikan memerlukan site. Penambahan / pembukaan lahan ini berarti semakin menghilangkan open space dan daerah-daerah resapan air. Jadi air hujan, tidak lagi dapat terserap ke dalam tanah, tapi hanya mengalir bebas diatas.
Entah karena alasan apa, Sepertinya pemerintah lebih berpihak pada pengembang dengan meloloskan proyek mereka. Proses normalisasi sungai seolah menjadi rutinitas tahunan pemerintah.
Kira-kira seperti itulah singkatnya latar belakang pekerjaan saya. Sebanarnya jika mau diuraikan lebih detail, akan menjadi satu postingan sendiri.
Dari informasi yang saya punya, saya mulai menterjemahkannya ke dalam konteks “Jogja” dan mengoverlay kan dengan pemanasan global.
Kira-kira seperti inilah:
1. Berita / info normalisasi sungai
Kadang / malah sering tanpa pemberitahuan, persetujuan, ganti rugi.
2. Penggusuran yang dilakukan satpol PP
3. [sisi lain] Pembangunan besar-besaran apartemen & mall
4. Ironi normalisasi sungai vs apartemen
5. Dampak -- “Global Warming” -- banjir
Dampak banjir / tenggelamnya Jogja ada dua faktor. Pertama karena keserakahan manusia dalam membanguni bumi, ditambah semakin tingginya air laut karena mencairnya es.
CONTINUITYandCHANGE
Teknik Arsitektur UK Duta Wacana
©2009 Teori Arsitektur
Imelda-Setyo
Subscribe to:
Posts (Atom)

